<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5757701620517749201</id><updated>2011-05-03T04:15:04.815-07:00</updated><category term='cerpen'/><category term='cerbung'/><title type='text'>MY STORY!</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kk-inhere.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5757701620517749201/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kk-inhere.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kizsee Kiseki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17882772233815130172</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_N5prtzFR-e0/SQ1158v9I0I/AAAAAAAAAAo/5JJQsheeAnk/S220/miss+purple!.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5757701620517749201.post-1944009062517493860</id><published>2011-03-26T09:27:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T09:30:36.615-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerbung'/><title type='text'>Dear, Maddy.. (part. 1)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;Kedua gadis kecil itu menghentikan ritualnya, mereka tidur terlentang menantang langit sambil memejamkan mata, sesekali mereka cekikikan. Entah apa yang ditertawakannya. Ya, hanya jiwa mereka yang tahu, jiwa yang sudah menjadi satu karena kebiasaan mereka setiap sore ini. Meniup gelembung sabun sambil membuat permintaan. Kedua gadis kecil itu percaya, gelembung-gelembung itu akan dibawa udara jauh tinggi kepada alamat pesan di dalamnya sehingga permintaan mereka akhirnya terwujud.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Napas keduanya masih memburu, lelah bukan kepalang. Seminggu belakangan, hujan melanda kota Jakarta. Sangat deras seperti air yang ditumpahkan dari ember, hal itu membuat mereka tidak bisa pergi ke taman komplek Asoka seperti biasanya untuk meniup gelembung permintaan. Dan hari inilah "waktu pembalasannya". Matahari hangat menyelusup lewat celah dedaunan rimbun di taman Asoka serta semilir angin yang siap menerbangkan gelembung dua gadis kecil itu. Dan bisa diduga, mereka meledak seperti bom atom. Berlari dari utara ke selatan, barat hingga timur, tak terkendali seperti halnya gelembung mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Kamu mau tahu apa permintaan terbesarku tadi?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Eh, bukannya kita tidak boleh memberi tahu kalau ingin permintaanmu tersampaikan?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Aku mau punya pacar yang baik. Terus pacar aku itu harus mau aku ajak main gelembung di Belanda” kata gadis kecil yang rambutnya dikuncir dua acuh. Pipinya merona merah karena menahan malu, sekilas ia merutuki ucapannya yang keluar dengan polosnya. Untuk apa pula aku memberitahu? Padahalkan nggak penting... begitulah isi pikirannya saat ini, tapi ia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tak apalah...&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Kalau kamu? Mau seperti apa pacarnya?” lanjutnya. Yang ditanya langsung menghadapkan wajahnya kearah arah si rambut kuncir dua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Umurnya belum genap 8 tahun, tapi kenapa ia malah membicarakan tentang pacar? Bukankah seharusnya ia membicarakan tentang sekolah, PR atau teman-temannya? Tapi gadis kecil itu memang berbeda. Pikirannya sangat dewasa dan njelimet, membuat orang disekitarnya mengira ia sudah kelas kelas 6 SD. Gadis kecil berambut ikal disebelahnya tertawa geli, memamerkan baris gigi kecilnya yang putih bersih,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Eh, kenapa di Belanda?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Soalnya di sana ada kincir anginnya” gadis kecil kuncir dua itu menjawab setengah dongkol karena pertanyaannya telak diacuhkan. Sebenarnya ia tahu persis teman sepermainanya itu tidak akan menjawab, sudah menjadi bawaan sejak lahir gadis berambut ikal di sebelahnya lebih suka bertanya dari pada menjawab. Lebih mengasyikkan katanya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Dari mana kamu tahu di sana ada kincir anginnya? Emang kamu udah ke Belanda?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Belum sih, tapi Papa yang bilang di sana ada kincir angin. Kincir anginya besar dan indah banget deh! Kata papa, nanti kalau aku sudah besar, aku pasti akan kesana. Pasti.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“JANGAN!” refleks gadis berambut ikal menyalak keras sambil bangun dari tidurannya. Mata almondnya yang cantik kini memperhatikan lebih dalam mata temannya, berharap apa yang diucapkannya tadi hanya lelucon semata, “kamu di sini aja. Nanti aku buatin kamu kincir angin” lanjutnya dengan nada yang lebih lembut&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Nggak mau! Aku maunya kincir angin yang di Belanda, kalau kamu yang ngebuatin kincirnya pasti kecil deh, nanti gelembung-gelembungnya nggak bisa sampai ke Tuhan.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Ke siapa? Tuhan?” gadis berambut ikal mengernyit dalam mendengar pernyataan bodoh temannya itu “memang mau minta apa sih? Kok sampai ke Tuhan? Kalo mau minta ke Tuhan sih tinggal do’a aja, nggak usah sampai ke Belanda buat nerbangin gelembung-gelembung itu,” lanjut gadis berambut ikal. Suaranya sedikit tidak jelas karena ia memajukan bibir mungilnya tiga centi. Gondok. Bagaimana mungkin temannya itu lebih percaya gelembung dari pada do’a? Selama ini kan mereka sepakat gelembung-gelembung ini ditiup untuk menyampaikan pesan kepada seseorang atau keinginan terpendam mereka. Karena pada 9 tahun yang lalu –ketika mereka pertama kalinya melakukan ritual ini— mereka belum bisa menulis, maka gelembung-gelembung itu menjadi sebuah perantara yang dianggap paling baik menurut mereka. Dan sekarang malah...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Nggak ah, aku maunya pakai gelembung aja. Pasti lebih keren. Hehe...”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Kalau aku ngebuatinnya seratus kincir, pasti gelembungnya bisa sampai ke tuhan kok! Kamu tetep di sini ya?” bujuk gadis berambut ikal lagi karena saran ‘berdoa’-nya resmi ditolak oleh gadis ayu di sebelahnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Seratus kincir? Mm…” gadis berkuncir dua berpikir keras, cukup tergiur dengan tawaran seratus kincir itu, ”ah, tetep nggak mau. Aku mau kincir yang ada di Belanda” lanjutnya mantap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Kalo kamu kesana, aku sendirian dong? Nanti kamu nggak bisa aku kenalin ke kakak ganteng...”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Kakak ganteng?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Iya. Dia kakak kelasku di sekolah. Dia kelas 2A.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Kelas 2? Wah, berarti dia seumuran dong sama aku?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“He-eh. Eh tapi kamu nggak boleh ambil kakak ganteng aku ya! Pokoknya cuma aku yang boleh ada di hatinya. Hihihi…”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Ya nggak mungkin aku ambil kakak gantengmu itu, kan aku nggak kenal. Lagi pula aku tidak satu sekolah dengan kamu dan dia kan? Hahaha…”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Tapi kan bisa aja…” gadis berambut ikal menyangkal dengan suara hampir tak terdengar. Seketika kepalanya tertunduk lesu. Begitupun binar matanya yang penuh kecerian perlahan meredup bersamaan dengan ketakutannya. Ragu juga kalau ia harus mengenalkan kakak gantengnya kepada sepupunya yang beda satu tahun itu. Tidak menutup kemungkinan kakak ganteng yang sekarang sedang ditaksirnya akan menyukai sepupupnya yang 180 derajat kebalikkannya, cantik, baik, dan lembut, apa coba kekurangannya? Gadis kuncir dua tersenyum lembut sambil memeluk sepupunya hangat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Tenang aja, aku punya firasat si kakak ganteng itu ditakdirkan buat kamu. jadi kalau pun aku atau orang lain ambil hari ini, suatu saat dia pasti balik lagi buat jemput kamu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Jemput aku? Kemana?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Belanda”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Ngejemput aku? Ke Belanda?! Masa sih…” gadis berambut ikal menggigit kuku ibu jarinya kuat-kuat. Ragu, ”kamu aneh deh, yang mau ke Belanda kan kamu, bukan aku. Aku sih nggak mau ke Belanda! Aku suka Indonesia, soalnya kan kakak ganteng ada di Indonesia, dia juga suka Indonesia kayak aku.” Mungkin... lanjutnya dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Hahahaha... Percaya deh, kakak ganteng itu bakal nyusul kamu!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-family: 'trebuchet ms', verdana, arial, sans-serif; font-size: small; text-align: center; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" sjavascript:void(0)tyle="line-height: 24px;"&gt;*to be continue*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5757701620517749201-1944009062517493860?l=kk-inhere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kk-inhere.blogspot.com/feeds/1944009062517493860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5757701620517749201&amp;postID=1944009062517493860&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5757701620517749201/posts/default/1944009062517493860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5757701620517749201/posts/default/1944009062517493860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kk-inhere.blogspot.com/2011/03/dear-maddy-part-1.html' title='Dear, Maddy.. (part. 1)'/><author><name>Kizsee Kiseki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17882772233815130172</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_N5prtzFR-e0/SQ1158v9I0I/AAAAAAAAAAo/5JJQsheeAnk/S220/miss+purple!.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5757701620517749201.post-5475710846862166634</id><published>2011-03-23T09:36:00.001-07:00</published><updated>2011-04-09T08:23:25.219-07:00</updated><title type='text'>Tiga Hawa (part 2)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Aku sekarang sudah punya pacar,” kata si bungsu malu-malu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Oh ya?! Memang ada yang mau?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Ah, kakak! Jangan gitu dong, aku laku lagi. Aku kan sudah dinobatkan sebagai kembang desa di sini. Hihi…”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Siapa pacarmu itu, gil?” kakak bertanya lagi, nada suaranya terdengar malas sekali. Rasanya aku maupun kakak dapat menebak siapa pacar si bungsu kesayangan kami itu. Paling pemuda desa yang satu sekolah dengannya. Pemuda yang punya tampang ‘lumayan’, pandai merayu tapi otaknya dangkal. Atau sebaliknya, si bungsu terpesona karena pemuda itu punya ‘otak’ sehingga rupanya yang biasa saja dan ketidak mampuannya merangkai kata pun ia abaikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Si bungsu diam seribu bahasa. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras, ciri kalau ia sedang ragu. Tapi kenapa ia ragu untuk memberi tahu siapa pacarnya? Bukankah ia yang mulai membicarakannya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tapi teteh sama kakak jangan ketawa kalau tahu siapa pacarku ya” kata si bungsu sambil tersenyum. Kami berdua mengangguk kompak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kang Wardi,” kakak mengernyit bingung mendengar jawaban singkat si bungsu yang diiringi senyum lebarnya. Senyum yang memamerkan deret giginya yang berbaris rapi dan putih laksana mutiara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kang Wardi siapa, Gil?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Berapa orang bernama Wardi di desa ini yang kakak kenal sih? Kang Wardi yang aku maksud...”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PLAKK!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Belum selesai si bungsu cerita, kakak sudah mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi kanan si bungsu. Si bungsu mendelik marah kearah tangan laknat yang masih terangkat. Aku segera menarik tangan kiri kakak yang sudah bersiap mencekik leher si bungsu. Suasana hangat yang menyelimuti kamar kecil ini seketika menjadi panas karena tidak ada yang bersuara, hanya terdengar deru napas kakak yang memburu serta isak tangis si bungsu yang menyayat hati siapa pun yang mendengarkannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “RAGIL! Kamu tahu siapa Wardi itu, hah?! Dia tuan tanah yang istrinya saja sudah empat! Umurnya di atas lima puluh tahun tahun, Gil! LIMA PULUH! Kamu gila apa?!” kakak menghardik si bungsu, telunjuknya yang lentik menunjuk muka si bungsu dengan sadisnya membuat tangisan si bungsu semakin menjadi-jadi. Sebenarnya aku juga marah besar mendengar pernyataan si bungsu perihal siapa pacarnya itu, tapi sepertinya cukup delikkan tajamku kearah si bungsu saja yang mewakili kemarahanku. Toh ia pun mengerti kalau aku tidak setuju kalau ia berpacaran dengan Tuan Haji Wardiono.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ah, lelaki tua hidung belang itu memang kurang ajar! Ia memang suka sekali mendekati perempuan muda seperti adikku ini. Dan perempuan-perempuan muda yang biasanya menjadi pacarnya itu ialah para perempuan yang gila harta. Apa sang waktu telah menjadikan si bungsu berotak matrealistis? Saudara seperti apa kami ini, sampai tidak tahu bagaimana sifat adiknya sekarang?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Aku sayang kang Wardi, kak,” kata si bungsu hampir tak terdengar. Alasan yang klise! Semua perempuan juga pasti bilang begitu untuk menyembunyikan muka aslinya yang menginginkan harta tujuh turunannya pak Wardi dan aku yakin itu juga yang dilakukan si bungsu. Sembunyi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Aku tidak peduli ia sudah tua dan telah beristri empat. Ia menyayangiku, mengayomiku, seperti bapak...” katanya lagi. Kali ini mata sendunya sudah berani menatap wajah kami secara bergantian. Rasanya tidak kuat juga berlama-lama marah kepadanya yang bermuka lugu dan tulus itu. Aku pun luluh dibuatnya. Ah, Ragil...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Jangan sebut bapak, Gil. Tahu apa kamu tentang bapak? Kamu bahkan tidak pernah melihat wajahnya kan?” tanya kakak dengan suara yang lebih rendah. Air matanya sudah tak dapat dibendung, ia pun ikut terisak. Hhh, benar juga kata kakak. Tahu apa si bungsu tentang bapak? Orang yang telah meninggalkannya demi wanita kota kaya ketika ia masih di kandungan umur tujuh bulan. Jadi apa coba yang si bungsu tahu tentang bapak?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apa perhatian Ambu, teteh, dan kakak kurang untukmu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Untuk berbicara denganku saja Ambu tidak mampu, kak. Mana mungkin Ambu memberi perhatian yang semestinya seorang Ibu berikan kepada anaknya…” si bungsu menghentikan penjelasannya, ia menarik napas panjang, “kakak sama teteh juga mana pernah ada di dekat aku ketika aku butuh. Itu yang kakak sama teteh sebut dengan perhatian? Kalian menggatikan perhatian kalian dengan mengirimi aku uang sekolah, uang hidup bersama Ambu, dan uang keperluan belanja. Tapi apa kalian pikir aku butuh itu? Tidak sama sekali. Aku butuh orang yang bisa memperhatikan aku, menyayangi aku secara nyata, bukan dengan uang. Dan kang Wardi datang ke hidupku dan memberi itu semua. Tolong jangan melihat kang Wardi sebelah mata, ia tidak seburuk pandangan kalian” si bungsu melanjutkan dengan sesegukkan. Hening kembali menyelimuti ruangan. Hanya sesekali terdengar segukkan si bungsu dan kakak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Maafkan kami, Gil,” kakak memecah keheningan. Ia memeluk erat si bungsu. Detik setelahnya tak ada lagi tangis dan amarah. Karena baik aku maupun kakak sudah menerima kenyataan bahwa pak Wardi adalah pacar pilihan si bungsu. Yang terbaik untuknya...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Yah, memang tak ada manusia yang sempurna dalam hidup ini kan? Pasti ada cacatnya. Ya jelek lah, bodoh lah, miskin, dan bla bla bla…” kakak berhenti. Ia mengelap pipinya yang basah dengan punggung tangannya, “tapi yang terpenting adalah kita maupun lelaki pilihan kita itu saling menerima dan mengasihi” lanjutnya diiringi anggukkanku dan si bungsu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Nah, itu kakak sadar kalau tidak ada manusia yang sempurna. Lain kali kalau mau marah liat dulu dong siapa pasangan kakak sekarang. Suami kakak juga jauh dari sempurna, kakak saja hanya dijadikan istri keduanya,” kakak diam sesaat mendengar ucapan si bungsu yang tanpa disaring terlebih dahulu, tapi akhirnya ia tertawa terbahak-bahak, entah apa yang sedang dipikirkan si kakak itu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Biar saja dia sudah punya istri, yang penting istrinya kan tidak sebanyak KANG Wardimu itu.” Kami bertiga langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban kakak yang menekankan kata ‘kang’ sebelum nama Wardi. Kata ‘kang’ itu memang sangat mengganggu pendengaranku sedari tadi, sepertinya pak Wardi hidung belang itu lebih pantas dipanggil kakek Wardi dari pada kang Wardi, benar kan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ah iya, kakak juga punya seorang Adam yang tidak sempurna. Hampir aku lupa. Di samping ketampanannya, kekayaannya, dan kepintarannya, ternyata ada saja kekurangannya, lelaki pilihannya sudah beristri sebelum menikah dengannya. Tapi memang sudah keinginan kakak sejak dulu menikah dengan lelaki itu. Jadi ia menerima dengan lapang kalau dirinya adalah wanita kedua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kadang aku suka berpikir, apa kami bertiga dikutuk Tuhan sampai mendapat suami yang ‘cacat’? Padahal aku sangat yakin kalau kami adalah tiga kaum Hawa yang sempurna. Kami cantik, kami pintar, kami pun baik. Tapi kenapa Tuhan malah memberi kami pasangan hidup yang penuh dengan ‘kecacatan’? Terutama ‘cacat’ hatinya. Dan akhirnya Tuhan memberi jawaban yang bijak lewat kata-kata kakak tadi. Tak ada manusia yang sempurna dalam hidup ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5757701620517749201-5475710846862166634?l=kk-inhere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kk-inhere.blogspot.com/feeds/5475710846862166634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5757701620517749201&amp;postID=5475710846862166634&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5757701620517749201/posts/default/5475710846862166634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5757701620517749201/posts/default/5475710846862166634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kk-inhere.blogspot.com/2011/03/tiga-hawa-part-2-test_23.html' title='Tiga Hawa (part 2)'/><author><name>Kizsee Kiseki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17882772233815130172</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_N5prtzFR-e0/SQ1158v9I0I/AAAAAAAAAAo/5JJQsheeAnk/S220/miss+purple!.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5757701620517749201.post-3713038062706610055</id><published>2011-03-11T21:01:00.000-08:00</published><updated>2011-03-22T02:14:32.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Tiga Hawa (part 1)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Teteh! Kakak!” gadis remaja itu berlari gembira menyambut kami, kedua saudarinya yang baru datang dari kota,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; “Apa kabar? Aku kangen sekali sama kalian,” lanjutnya sambil mengelap pipinya yang basah. Kedua tangannya yang kecil rakus merangkul erat tubuh kami, seakan-akan kami hanya sedetik mengunjunginya dan kembali pulang ke kota didetik selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Heh, manja! Jangan nangis gitu ah, kan kamu sudah SMA sekarang. Malu tahu sama tetangga,” ah, kakak memang artis yang payah. Ia paling pandai berakting peran antagonis di layar kaca, sampai sebagian besar penonton setia sinetronnya beranggapan watak aslinya memang negatif seperti itu. Tapi di depan si bungsu, hilang sudah kemampuan beraktingnya. Sebenarnya niat kakak ingin membuat si bungsu kuat dan menghentikan tangisnya yang tak kunjung usai karena ucapan sinisnya, tapi yang keluar malah rajukkan kecil dengan nada bergetar akibat usaha kerasnya menahan tangis yang hampir meledak. &lt;span lang="PT-BR"&gt;Aku melihat ada pancaran rindu yang besar di balik bola matanya terhadap si bungsu. Bagaimana tidak, ia sudah lima tahun tidak kembali ke kampung halamannya, itu berarti ia telah melewati waktu lima tahun tanpa si bungsu di sampingnya. &lt;/span&gt;Dulu ketika ia meninggalkan si bungsu, umurnya masih 12 tahun. SMP. Dan sekarang, si bungsu sudah SMA kelas 2! &lt;span lang="PT-BR"&gt;Sebagai si pengais bungsu, ia telah dinyatakan gagal total dalam menjalankan perannya. Tidak seperti aku, biar kata aku adalah istri seorang pejabat yang sibuk dengan agenda sosial bersama ibu-ibu pejabat lainnya, tapi aku tetap mengusahakan tiap kali lebaran aku mudik ke kampung halamanku yang asri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Kini si bungsu memandangi wajahku lekat-lekat, mengelus mata kananku hati-hati lalu turun ke leherku yang jenjang. Tangisannya tambah parah, deras seperti air yang ditumpahkan dari ember. Entah kenapa dia selalu begitu ketika menyambutku. Aku tersenyum kepadanya –yang lebih terlihat seperti risih rupanya— sambil membelai rambutnya yang ikal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Aduh, aku tuh kenapa sih? Kok jadi sensitif banget ya pas ketemu kalian? Kan harusnya senang, hehe... Masuk yuk!” si bungsu mengatakannya dengan suara dan wajah yang dipaksakan ceria tapi gagal total. Aku mengikuti langkah penuh semangat si bungsu dan berhenti tepat di daun pintu masuk. Ku lakukan kebiasaanku ketika masuk rumah pertamaku ini. Membaui udaranya yang khas dan mengitari pandanganku ke seisi rumah. Tidak ada yang berubah, aku masih melihat sofa putih besar dan meja kayu panjang samping kiriku. Sofa putih tempat kami sekeluarga menerima tamu sekaligus bersantai kini warnanya sudah tidak jelas dan banyak lubang besar di sana-sini. Aku yakin kutu-kutu busuk telah beranak pinak dan menjadikan lubang-lubang itu sebagai hunian tetapnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Lalu di samping kananku, ada dua ruangan yang dibatasi dengan dua pintu yang terbuat dari bahan yang berbeda, yang satu terbuat dari triplek dan yang satunya lagi hanya di tutupi kain panjang motif kembang mawar. Pintu triplek dengan gantungan bertuliskan ‘kamar cewek’ dari gabus itu adalah kamar kami bertiga sewaktu masih tinggal bersama. Tidak ada yang berubah. Hanya saja bagian luar pintu triplek itu kini telah terkelupas, maklumlah dari awal aku lahir belum pernah sekalipun pintu itu diganti. Isi kamar itu pun masih sama. Ada kasur besar tanpa ranjang dan sebuah lemari sedang yang juga terbuat dari triplek. &lt;span lang="PT-BR"&gt;Itulah kamar kami bertiga saat masih tinggal bersama, sekarang kamar itu hanya di tempati si bungsu. Sedangkan ruangan yang hanya di tutupi kain sebagai pintunya adalah kamar Ambu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5757701620517749201-3713038062706610055?l=kk-inhere.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kk-inhere.blogspot.com/feeds/3713038062706610055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5757701620517749201&amp;postID=3713038062706610055&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5757701620517749201/posts/default/3713038062706610055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5757701620517749201/posts/default/3713038062706610055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kk-inhere.blogspot.com/2011/03/tiga-hawa-part-1-test_9548.html' title='Tiga Hawa (part 1)'/><author><name>Kizsee Kiseki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17882772233815130172</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_N5prtzFR-e0/SQ1158v9I0I/AAAAAAAAAAo/5JJQsheeAnk/S220/miss+purple!.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
